Minggu, 04 April 2010

Celebrity and Entertainment

Selebriti berorientasi kepada perhatian masyarakat terhadap seorang individu yang diakibatkan oleh peran media. Penampakan akan kehidupan pribadi dari seorang individu yang tidak seharusnya terungkap namun memiliki dampak kepada masyarakat luas dapat mengakibatkan seseorang menjadi populer (baca: selebriti).

Berita atau informasi tentang selebriti merupakan salah satu topik yang paling populer di media, terutama televisi. Kita dapat melihat tayangan informasi tentang selebriti atau yang sering disebut dengan infotainment, di semua stasiun televisi sejak pagi hingga sore, bahkan malam hari.


Pada umumnya masyarakat senang mengikuti berita mengenai para orang penting maupun para selebriti. Acara-acara gosip dapat kita temui di semua stasiun televisi, kita pun dapat membaca tentang gosip para selebriti di media cetak ataupun tabloid. Meskipun jika diperhatikan, berita-berita atau gosip yang ditayangkan tidak jauh berbeda di antara sesama stasiun televisi dan tabloid.


Croteau & Hoynes (2003) mengungkapkan dunia selebriti hiburan juga berkaitan dengan pertanyaan tentang kesenangan (fun). Siapakah orang-orang terkenal ini, dari mana mereka berasal, dan mengapa mereka pantas mendapatkan perhatian kita?


Jika kita melihat masyarakat Indonesia kontemporer, dapat dilihat bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut penting. Misalnya jika dilihat bagaimana ramainya pemberitaan tentang kasus Manohara.


Manohara pun tadinya bukan orang penting di Indonesia, sebelum ia diperistri sang pangeran dan dikabarkan mendapatkan penyiksaan. Sehingga jelas terlihat peran media yang mengabarkan kasus tersebut kepada khalayak. Sekarang ia menjadi selebriti dalam sekejap "berkat penderitaannya". Terlepas dari benar atau tidaknya berita penyiksaan ini, berita ini telah banyak mendapatkan perhatian. Manohara pun secara tidak langsung membutuhkan media untuk menuntaskan kasusnya. Ketika ia menceritakan pengalamannya di hadapan media, sebagian besar masyarakat menaruh perhatian dan secara tidak langsung pula memberikan bantuan sehingga saat ini ia telah terlepas dari penderitaannya.


Croteau & Hoynes (2003) menulis, "Some people are more valuable than others" atau bahwa sebagian orang memang lebih berharga daripada yang lain. Masalah "kelas" atau status sosial merupakan hal yang penting dalam industri media. Dalam konteks media berita (news media), kelas atau status sosial merupakan hal yang penting. Berita-berita yang kita baca di media cenderung menyoroti isu-isu yang berkaitan dengan pembaca dan penonton dari kalangan kelas menengah ke atas, ataupun tentang orang penting dalam masyarakat.


Sebagai contoh, pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang dilakukan oleh tersangka ketua KPK non aktif Antasari Azhar. Beritanya menjadi skandal besar dibanding dengan berita-berita pembunuhan lainnya yang biasa dilakukan oleh rakyat menengah ke bawah. Hal ini dikarenakan status Antasari Azhar sebagai ketua lembaga terbesar dalam hal penuntasan korupsi Indonesia. Dengan ditahannya Antasari Azhar menimbulkan dampak lain seperti pemberitaan akan dirinya yang tentunya membuat masyarakat kehilangan kepercayaan kepada KPK. Tak dapat dipungkiri, KPK “besar” karena diketuai Antasari Azhar, sehingga “absen”nya tokoh masyarakat tersebut mengakibatkan timbulnya isu negatif di tengah masyarakat.


Jika dianalisis dari sisi khalayak (audience), Joshua Gamson (1994) dalam Hoynes & Croteau (2003) menyatakan kegiatan "menonton para selebriti" merupakan tindakan yang kompleks dan bahwa khalayak menggunakan berbagai strategi interpretif dalam interaksinya dengan dunia selebriti. Sebagian khalayak percaya pada apa yang mereka lihat di media, dan memandang para selebriti ini lebih pada bakat yang mereka miliki.

Sebagai contoh, Agnes Monica. Bakat yang ditunjukannya melalui media, seperti: menyanyi, acting, presenter, dancing, diintepretasikan oleh khalayak bahwa dirinya merupakan selebriti yang sesungguhnya. Tukul Arwana pun merasakan kenikmatan media ketika media massa menyorot bakatnya sebagai presenter yang sekaligus menghibur dengan lelucon-leluconnya dalam acaranya “Bukan Empat Mata”. Sehingga media mendapat kepercayaan khalayak bukan hanya melalui kehidupan pribadi selebriti, namun juga dari bakat yang dimiliki selebriti.

Sebagian yang lain memandang para selebriti ini sebagai sesuatu yang artifisial dan senang menikmati tantangan untuk melihat yang di belakang layar, melepas topeng para selebriti "fiksi" ini. Sedangkan sebagian khalayak yang lain melihat para selebriti ini sebagai "mainan", dan tidak memandang selebriti baik sebagai realitas maupun sebagai sesuatu yang artifisial.


Playfulness atau sikap main-main ini berkisar pada dua aktivitas, yaitu gosip dan pekerjaan detektif. Untuk sebagian orang, kesenangan menonton selebriti ada pada gosip, yaitu saling berbagi informasi mengenai kehidupan selebriti. Ini sangat menyenangkan karena mereka dapat menertawakan, ataupun memberi komentar sesukanya tanpa ada konsekuensi.


Sedangkan tipe khalayak yang lain lebih menyukai sisi detektif, dengan cara mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai media tentang selebriti tertentu, dan mereka menemukan kesenangan ketika mereka merasa telah menemukan apa yang dicarinya.


Terlepas dari tipe manakah kita sebagai audience (khalayak), hendaknya kita tidak begitu saja percaya pada semua yang kita baca dan dengar dari media, tapi lebih cerdas dan kritis dalam menerima berbagai informasi dari media.


KesimpulanMedia membutuhkan selebriti karena media itu sendiri tidak dapat dikatakan media jika ia tidak memiliki pemberitaan, baik itu pemberitaan news maupun infotainment. Selebriti membutuhakan audience karena definisi dari selebriti itu sendiri, bahwa mereka berorientasi kepada perhatian masyarakat yang merupakan audience. Sehingga hubungan diantara keduanya sangat lekat dikarenakan kebutuhan kepada msaing-masing pihak. Audience membutuhkan selebriti untuk pemenuhan kebutuhan, rasa keingintahuan akan informasi maupun hiburan. Sehingga audience mendapatkan hiburan dari pemberitaan tentang selebriti melalui media. Sedangkan media membutuhkan audience sebagai penghasil keuntungan. Semakin banyak audience menonton dan menginginkan pemberitaan tentang selebriti, semakin banyak pula keuntungan yang diperoleh media.
Jadi media tidak dapat berdiri sendiri tanpa audience juga selebriti. Begitu pula sebaliknya.

To complete final assignment of Media & Entertainment subject

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar